Sensasi My CiS1

my CS1
Waktu berlalu dan hari pun berganti. Sedari setahun lebih yang lalu menjadi tungganganku si genre CS12A1RR aka CS1 cosmic black 2012 menemani kemanapun mengaspal. Tak terasa sudah sebegitu lama ya, dan selama itu pula mempertahankan keperawanan alias standar ting-ting alias no modif. Selalu memberinya Pertamax tak jarang malah Pertamax Plus biar keren, servis rutin di AHASS tepat waktu (kan masih gratis) dan ganti oli sesuai periode waktu. Terjadwal deh.
Selama itu pula my CiS1 pun kagak bikin ribet pengendaranya. Diajak kemanapun ok-ok saja. si CiS1 yang diimpor langsung dari Jakarta, memang baru diterima seminggu setelah Nomorr Polisi ada dan mulai inreyen hampir 100 km dengan jalur rumah menuju kantor pp saja. Setelah odometer lewat 100 km mulai dicoba di jalanan lurus Pacekulon sampai Embat-embat (Nganjuk) dan cuma dapat 116 kpj, tidak mengesankan. Diajak menikung cepat jalur Gringging (Kediri) menuju Pace (Nganjuk) memang enak banget. Termasuk mendaki bukit berdua sama istri menuju Air merambat Roro Kuning sampai indikator panas menunjuk enam bar (full bar) sepertinya ridernya yang belum klop sama kendaraanya nih.
Lewat 500 km setelah serrvis periodik pertama (sekaligus ganti oli gratisan MPX1) dicoba dilarikan berboncengan dengan adik menuju Surabaya, lumayan kencang dijalan bersekat Jombang – Mojokerto. Mulai disini semakin mengerti seperti apa motor satu ini. Kencang sih larinya, tapi banyak juga minumnya. Dengan perbandingan 1 : 35 dengan kecepatan yang tak pernah turun dari 90 kpj mungkin masih dalam batas keborosan yang bisa dimaklumi, berdua lagi atau membawa beban lebih dari 110 kg. Dilanjut kota-kota menikmati malamnya Surabaya tak menjadi masalah. Semakin menganal CS1 yang kurang responsif di kemacetan kota, sepertinya genre Honda satu ini tidak cocok untuk Stop and Go. Perjalanan dilanjut ke Area Lumpur Lapindo Sidoarjo, memutari Kota Sidoarjo kemudian menuju Krian untuk istirahat. Sembari pijit-pijit (maaf) pantat, karena rasa tak nyamannya pantat duduk di atas jok CS1 berlama-lama. jok yang keras tentu ini menjadi catatan tersendiri. Esoknya pulang menuju Nganjuk, dijalanan mencoba head to head dengan motor lain sekelas dijalanan Mojokerto – Jombang. Ternyata mumpuni juga powernya, dengan berboncengan masih mampu meng-overtake Revo single rider yang pengendaranya sampai njengking-njengking menunduknya, adikku malah ngece pakai mengayuhkan kaki, hehe piss (not suggest to try this). Dicoba juga dengan single Jupiter Z dan Vega R ternyata masih mampu jabanin di trek lurus. Dari Kertosono dijajal sama SupraX125, sama-sama berboncengan CS1 kalah selepas lampu merah, baru bisa menyalip setelah masuk jalanan lurus panjang, dilewati dan tak terkejar. Sampai Baron dicoba oleh pengendara Blade yang ngotot, tetep CS1 kurang sip diputaran bawah, harus menunggu jalanan lurus dan treknya panjang.
Sehari-hari jalanan lurus sepanjang 1,9 km dari rumah menuju kantor adalah tempat olahraga si CiS1. Sembari menyelami kemampuan motor ini dan menyesuaikan gaya berkendara yang lebih pas. Biasanya pulang ngantor,betot gas selepas lampu merah, ngetes kecepatan, dana hasilnya masih standaran. dibatasi limiter CDI, gigi 1 32 kpj, gigi 2 66 kpj, gigi 3 93 kpj, gigi 4 112 kpj dan gigi 5 mencapai 116 kpj sudah dibatasi limiter jalan. Disinyalir gaya berkendaranya masih belum pas dengan karakter motor.
Selepas 1000 km CS1 kembali diajak mengaspal agak jauh, kali ini bersama keluarga kecilku. Menuju Kota Angin Nganjuk si CiS1 diajak melaju pelan dikisaran 40-60 kpj. Ternyata perbedaanya signifikan dengan saat berteriak di putaran atas dalam hal konsumsi BBM. Meski beban tiga orang satu liter BBM mampu menempuh hingga lebih kurang 50 km. Pelajaran yang dapat diambil adalah mau irit? jangan ngebut!
Si CiS1 kembali melakukan perjalanan saat lebaran. Setelah servis berkala yang kedua (2000 km) dan ganti oli, diajak jalan menuju Sidoarjo. Bersama istri dan anak, menyusuri jalanan halus, lurus, lebar bersekat serasa menaiki sedan (byuh bandingannya). Ya begitulah, istriku mau tak mau mengakui ini, hehe. Daripada uang yang sama dibelikan mobil keluarga lawas macam minibus, ya kalo pas sehat kalo mogok ditengah jalan. Wah? Demikian pula sebaliknya pas balik ke Kediri, merka tak sadar diajak lari kencang sama si CiS1. Beberapa kali aku harus mengingatkan karena mereka terlena nyamannya CiS1 samapi terkantuk-kantuk. Kalo sudah begitu jangan teruskan, rider maupun boncenger kalo mengantuk sama saja bahayanya. Segelas Es Oyen didepan Universitas Darul Ulum jombang bisa buat mengademkan mata lagi. Boleh dicoba ya.
Lebih dari 3000 km mengaspal bersama, merasa sudah padu dengan tunggangan. Beberapa kali mencoba dijalanan depan rumah dengan memaksimalkan gigi empat si CiS1, sampai limiternya. Mencoba tanpa pakai gigi lima. Hasilnya gigi empat anatara 114 kpj hingga maksimal 116 kpj. Setelah merasa 116 kpj adalah kecepatan limiter di gigi empat, ngetes di Nganjuk, begitu kondisi memungkinkan. Ternyata bisa sampai 119 kpj di gigi lima. Mungkin itu yang paling tinggi tercapai di kondisi CiS1 standar. Meski cuma segitu kecepatannya, menurutku sudah lumayan, apalagi dikendarai sendirian. Ngeri. Beberapa kali juga sendiri, mencoba mengejar yang berboncengan, pasti terkejar. Hitungannya gak ngertilah, setidaknya mereka mbetot gas, dan kita cuma mengejar, mencoba menyusul dan itu selalu berhasil sampai melewati. Mulai Old Vixion, Satria F150, atau CBSF kalo berboncengan mereka akan kesulitan mendapatkan kecepatan maksimal. Lha wong tambah berat kok. Tapi kalo satu lawan satu ya terimakasih, ya pasti CS1 kalah lah. lha wong yo cuma 125 cc, mau kencang seperti apa?
Memasuki km 4000 selepas ganti oli (sementara masih setia dengan MPX1) kembali diajak naik gunung. Kali ini lereng Wilis sebelah selatan tujuan kami. Boncengan dengan istri bersama teman-teman grup Kediri, tanpa masalah sampai Air terjun Irenggolo dan Air terjun Dolo. Rute yang lebih membutuhkan power diputaran bawah tetap bisa diatasi si CiS1 kalo kita mampu menahan rpm di torsi maksimal, berarti harus dipantengin di tujuh-delapan ribuan rpm. Ini juga harus dipelajari dan dijadikan sebagai skill khusus cysers yakni menggantung rpm.
Memasuki 5000 km hanya melalui rute 1,9 km jalur lurus rumah – kantor pp saja. Sekali jalan ke Tulungagung terus ke Ngunut. Semakin menunjukkan bahwa motor ini enak buat jalanan antar kota yang lurus-lurus, mulus tanpa tanya tanjakan atau kemacetan. Riding position yang nyaman, handling mantap, power cukup dan stabil di kecepatan tinggi.
Jangan lupa CS1 owner untuk selalu merawat si CiS1 dengan mengunakan BBM tanpa timbal dan beroktan minimal 92 dan selalu ganti oli secara terjadwal maksimal 2000 km. Selalu cek ketegangan rantai, lumasi bila perlu dan lihat juga tekanan udara ban tambah udara jika diperlukan. CS1 terawat insyaallah anda selamat.

Keep Safety Riding.

Advertisements

About CS12A1RR

Aries boy rides CS1. Pas banget dengan zodiaknya naik domba garut. Pake nyanyi lagu favoritnya Devi Aldiva (OM New Pallapa). Klop!
This entry was posted in My CS1 and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Sensasi My CiS1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s